ARIEF C UTOMO

Ketawa-tiwi mulu nih #baby

Masa Tenang. Mata Senang. Hati Riang.

Kampanye copras-capres sudah memasuki masa tenang. Sungguh bersyukur Alhamdulillah bisa sedikit lega setelah capek sama polusi tulisan yang membanjiri dunia maya. Saling serang dan bagus-bagusin jagoannya. Hingga nampak gimana sifat asli teman kita di media sosial. Mendadak seperti pilihan jaman “kamu pilih aku atau dia?!” “kalau kamu terima, kamu ambil ini, kalo enggak pilih ini”. FUAK! Kisah cinta remaja! Sungguh pelik pesta demokrasi idol yang aduhai ini ya gaes… -__-

Adil bukan tentang sama rata, tapi menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Adil tidak akan bisa ditanyakan kalo sudah menyangkut hati, bullshit ngomongin seimbang antara dunia akhirat, pasti ada kecenderungan untuk menginginkan ini itu lebih dari ini dan itu. Kadar baik akhirnya disesuaikan kembali sesuai porsi masing-masing. Ada tukang becak yang memilih karena urusan perut, ada profesor yang memilih dengan analisa jenius. Ada yang ingin jadi pemimpin karena kekuasaan, ada pula yang memimpin karena diberi tanggung jawab. Semua sama-sama berkeinginan dan berniat kearah Indonesia yang lebih awesome.

Mencoba bersikap untuk tidak ikut euforia politik bukanlah sikap tidak peduli, atau tidak punya sikap. Tidak memilih pun adalah sikap. Sikap tidak memilih diantara keragu-raguan, bukan sekedar karena mending ini timbang itu. Mending anggur daripada vodka? Mending rokok daripada ganja? :p

Bukan lantas menganalogikan mentah-mentah pilihan capres seperti itu. Layaknya imam sholat yang lebih bagus bacaan sholat tapi peringainya buruk, atau yang bacaan kurang tapi akhlaknya terpuji. Saya akan selalu mengikuti bagaimana imamnya sebagai makmum, seperti memakai qunut ataupun tidak, asal tidak keluar dari rukun sholat. Kita juga dapat memberikan peringatan bila ada kesalahan. Contoh mudah dalam Islam seperti itu. Tidak mencaci pemimpin kita sendiri. Juga mematuhi segala bentuk hukum yang berlaku.

Jadi mau negara saya dipimpin mantan jenderal saya juga tetap islam, negeri saya dipimpin mantan gubenur saya akan tetap sholat, bangsa saya dipimpin mantan pacar saya akan tetap istiqomah, kalo dipimpin dave grohl pun saya akan tetap ke masjid, bahkan dipimpin optimus prime saya tetep meningkatkan kualitas iman dan taat peraturan dalam bernegara serta peduli lingkungan. InsyaAllah. Allah yang berkehendak.

*NB : Saya akhirnya telah terdaftar di TPS tempat tinggal menurut KTP baru. Plus ditodong jadi panitia di TPS setempat. Hmm.. Ini amanat untuk membantu RT/RW sebagai warga baru. Biar bisa saling mengenal juga. Hehehe..

Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan

Nulisi pasir..

De Sam Jagoin Jerman dong… 😘🇩🇪

FAKIN ELECTION

Jadi gini, saya tidak pernah mengajak orang golput. Apalagi golput dengan alesan klasik, “gak kenal orangnya”. Cari dong alesan golput yang lebih tepat dari sekedar males gak cari tau seperti itu.

Hati nurani saya lebih karena gak suka dengan konsep pemilihan. Terserah istilah kerennya demokrasi atau apa. Nentuin pemimpin kayak voting idol-idolan aja.

Lebih suka jaman pemilihan ketua kelas, atau ketua osis. Dipilih bisa karena kepintaran, kecakapan, keberanian, dll. Yang jelas dirasa punya leadership yg lebih dibanding lainnya. Dari jaman kampus, kemampuan berorganisasi dibawa ke arah voting suara terbanyak. Puncaknya ya di pemilu yang FAKBGT!

Jadi direktur perusahaan, juga voting? Jadi imam sholat, voting? Jadi kapten sepakbola, voting? Doh! Lebih mbois ditentukan karena memang kemampuannya, bukan karena suara terbanyaknya. Itu liat aja kalo para pejabat isinya orang yang gak kompeten. Menteri-menteri diangkat karena sifatnya jabatan politik.

Siapa yang butuh suara rakyat saat seperti ini? Apakah partisipasi hanya saat seperti ini?

Hak suara dipukul rata.
Dari orang berpendidikan yang paham siapa calon terbaik yg dipilih dan orang yang memang tidak punya kemampuan menganalisa, jadi asal pilih. Namanya tetap hak. Bukan kewajiban. Mereka bisa sebut pesta demokrasi karena dengan biaya kampanye dan penyelenggaraan yang harusnya bisa lebih bermanfaat daripada guyonan pencoblosan.

PESTA! Ayo ramaikan! Mari berjudi!

Silahkan yg cinta konsep demokrasi. Kami mengabdi.

Yang masih beralasan gak tau mau nyoblos siapa karena gak kenal, gak ada salahnya liat2 dulu di web www.infocaleg.org tinggal dicari dari dapil mana, terus partai mana. Paling gak tau infonya dan cv nya terlebih dahulu. Daripada nyoblos ngawur liat photonya yg cakep atau yg penting dari partai mana. Atau yang penting yang ngasih duitnya. Hahaha.. Namanya juga pilihan. Bebas!

Jadilah pemilih yang cerdas. – View on Path.

Kelahiran Anakku

Tanggal 24 Maret 2014

Jam 19:30 ba’da isya

Saya pikir hanya kontrol biasa ke dokter, karena istri belum ada kontraksi dan bukaan sama sekali, sedangkan hari perkiraan lahir sudah lebih dari 4 hari. Dokterpun menyarankan untuk segera dikeluarkan karena terindikasi ketuban yang sedikit keruh. Dia bilang menggunakan metode yang dinamakan drip untuk mempercepat prosesnya. Keterangan secara medisnya itu gimana ga paham. Kita sih iyain aja, kan dia dokternya. Hahaha..

Dokter tersebut meminta secara uji lab, juga mental untuk memastikan bahwa, proses kelahiran normal itu memang sakit, jadi dipersiapkan. Istri dengan mantab bilang siyab! Saat ditanya mau kapan didrip dan ngamar, kita bilang sekarang! Beuh… Padahal belum makan malam….

Jam 21:00 

Saya berjalan kaki mencari makanan disekitar, sedangkan Istri saya sudah bersiap tiduran di ranjang klinik bersalin tersebut, dan diinfus. Yang dimana baru tau kalo lewat infus itulah yang namanya drip tadi masuk. Oke fine.

Sembari makan nasi goreng, nonton tv di kamar, ngabarin orang tua dan mengamati pergerakan perut istri yang sudah sering mengencang. Dan semakin sakit, katanya. Saya gak tau mesti ngapain. Dia kesakitan, ada bercak2 di sprei kasurnya. Tapi suster tiap jam cuma ngecekin tensi sambil nambahin tetesan drip di infus sambil bilang gak papa. WTF! Saya kehabisan cerita, dan motivasi golden ways apalagi untuk menghibur istri saya. Saya kosong dan kudu piye tweep.. Aku rapopo.. :(

Tanggal 25 Maret 2014

Jam 02:00

Saya putuskan memencet bel di kamar untuk keadaan darurat, meminta suster melakukan hal lain, misalnya ngecek bukaan atau apalah yang kira-kira terlihat progres sesuatu yg entah gimana yang namanya progres itu, selain istri saya mulet mlungker kesakitan.

Ya suster itu akhirnya mau ngeceki bukaan. Lalu dia lakukan sesuatu pada istri saya, dan bilang sudah bukaan antara 3-4. Dia bilang menunggu bukaan lengkap untuk kelahiran. Lagi-lagi dia tambahkan GAKPAPA kok untuk menenangkan. Hmmm.. ;|

Sekeluarnya suster dari kamar, kesakitan istri saya semakin parah, darah di kasur sprei yg sudah dikasih perlak semakin banyak mengucur, saya juga semakin bingung dan galau. Saya diem aja sembari doa tipis-tipis. Saya sempat keluar kamar cari udara segar sambil berjalan-jalan sekitar klinik yang sepi banget gak ada orang selain kami. Cuman terdengar suara satpam depan klinik bermain kartu dan radionya yang nyetel dangdutan. Doh!

Jam 03:30

Sempat sholat tahajud 2 rokaat saat istri semakin kesakitan dan memencet bel panggilan yang harus dipencet sekali lagi karena yang pertama gak ada siapapun yang dateng. Suster yang terlihat baru bangun tidur itu akhirnya meminta istri untuk segera dipindah ke ruang persalinan menggunakan kursi roda.

Ruang persalinan heboh dengan suara kesakitan istri dan kedubrakan suster bidan mempersiapkan ruangan. Tidak lama berselang, dokter yang rumahnya dibelakang klinik miliknya sendiri itu datang. Dia langsung mengajarkan bagaimana cara ngeden, nafas, dan posisi yang harus istri saya lakukan dengan benar. Juga yang saya lakukan untuk membantu persalinan, yaitu mengangkat bantal di belakang kepalanya. Keren! Hmm..

Ngeden pertama salah.
Ngeden kedua keluar air ketuban.
Ngeden ketiga kepala keluar.

Lalu keseluruhan badannya terlihat. Lalu tangisannya memenuhi ruangan. Saya dan istri saling tersenyum.

Menurut jam dinding, kelahiran terjadi pukul 04:17.

Adzan subuh diluar berkumandang.
Saya pun juga mengadzaninya yang mendadak dia berhenti menangis.

Lirih di dekat telinga dan tatapan tajam Anakku. Bayi kecil milik Allah yang dititipkan melalui rahim istriku.

Alhamdulillah telah lahir ke dunia..

Thought via Path

Di tahun 2013 kehilangan 3 nenek. Eyang Madura, eyang Solo, dan barusan eyang Kediri.. :’( – Read on Path.

Taqiy Nadlir Abqory. Lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan kakaknya, si Taqiyya. – View on Path.

at Rumah Eyang Kartopuran

I’ve shared 965 memories with my friends on Path - see them now at path.com!

The Long Wedding Road: Session 2.312012

…….

Saat saya mengajak nikah Ratih Adiwardhani Dyah Kusumastuti, dan dia menyanggupi itu, saya juga sudah bilang ke dia :

“proses kita menuju ke pernikahan ini tidak akan mudah seperti kelihatannya, masih ada harus oke dari mama kamu, masih ada kakak kamu sebagai wali, masih ada tentang pekerjaanku, tanggunganmu, ego kita, dll. Kemungkinan tidak jadi menikah tetap ada. Kita punya tujuan kemana, tau tujuan kita kemana, kalo kita belok-belok ya sampainya lama, atau bahkan gak sampai ke tujuan kita. Jadi kalo ada jurang, naga, hantu, atau apapun ya dihadapi. Cari cara menghadapinya. Sekarang kita gak usah membicarakan pernikahan dulu sebelum aku secara resmi meminangmu ke mama dan kakakmu. Istikharah, kalo memang jalannya, Allah pasti mempermudah”

………

Ternyata benar saja, kalo tidak semudah itu, pernikahan saya tidak disetujui oleh seekor naga (yang saudara bukan teman bukan). Konyol kan? Bahkan saya sampai mengalah karena naga yang aneh ini meminta saya menikah tahun depan saja. Ternyata Allah mengaturnya tidak demikian. Fitnah dan makian dia yang gak jelas itupun menguap entah kemana. Ijab qobul saya terbaca lancar di hari minggu 23 desember itu. Alhamdulillah..


End.

The Long Wedding Road: Session 2

…………

Semudah itukah mengajak seseorang untuk menikah? (Ya)
Apakah mengajak menikah itu semudah mengajak seseorang pergi main? (Ya)

Terkesan main-main dengan ini?
Tidak serius dengan pernikahan?

Nikah itu serius, sakral, butuh proses, butuh persiapan matang, kemapanan, cinta. Bla bla bla.. Zuper sekali.. Hhhhrrrr…

Proses yang membentuk apa yang kita inginkan. Saat kita capek berlarian, kita haus. Dalam keadaan haus itulah muncul keinginan untuk minum, dan gimana caranya mencari minuman supaya segar, gak haus. Itu juga kalo punya niat minum. Kalo males minum ya gpp, tidur juga boleh. Pilihan. Suka-suka.

Niat. Keinginan. Niat yang benar. Bukan niat dibalik niat.

Saat saya masih kuliah, beberapa pacar saya saat itu ada yg mengajak saya menikah. Terus terang pengetahuan saya kesana gak ada. Keinginan saya saat itu tidak ada menikah-menikahnya. Ya kuliah dululah, kerja dulu, ngeband, maen-maen ato apalah yang penting menikah itu gak tau buat apa. Gak kepikiran juga.

Hingga saatnya saya diputusin karena dibilang gak niat, apalagi saya gak lulus-lulus kuliah. Yauwes, dengan energi kegalauan *ceileh*, skripsipun rampung. Sarjana Teknik ditangan. Dan seorang wanita dekat (yang dikenalin dari adekku) saat itu memberikan harapan dan tantangan untuk menikah dengannya, dengan proses menurut dia taaruf (menurut saya berkenalan). Dengan energi meluap-luap semacam itu, saya berusaha meraihnya, banyak belajar juga tentang Islam, juga tentang pernikahan, juga berusaha mendapatkan pekerjaan yang menurut para orangtua : Mapan.

Pekerjaan sebagai pegawai di sebuah perusahaan BUMN pun didapatkan, kabar gembira itupun aku sampaikan pada wanita tersebut, hasilnya adalah sebuah penolakan untuk menikah karena satu dan lain hal yang diruwet-ruwetkan sehingga janji tingal janji semacam batal menikah versi 2.1. *halah*

NIAT aja belum cukup bukan?
Lalu?

Adek saya menikah dengan sesorang yang dikenalnya lewat temennya, dari pertama ketemu hingga menikah memakan waktu 2 bulan, dimana sebulannya adalah bulan puasa. Persiapan yang ajaib. Mengingat mantu pertamanya ibuku yang termasuk gede-gedean. Saya berada diluar kota, dan pulang saat akan lebaran dan nikahan itu. Haru sekali saat itu. Adek saya pun tidak mengenal betul bagaimana suaminya. Dia cuman bilang: “pasrah mas, Allah yang ngatur”.

Beberapa selang kemudian, adek saya lagi-lagi mengenalkan saya dengan temennya, yang entah kebetulan atau apa adalah teman dekat wanita gak jadi nikah versi 2.1 tadi. Tapi kali ini saya hilangkan semua kriteria dan keinginan pada seorang wanita. Proses yang panjang untuk sebuah taaruf, pasrah gak pasrah yang jelas bapaknya beberapa kali bilang kalo tidak menyetujui. Gak bisa nego. Gak suka sama saya gampangnyalah. Batal menikah versi 2.2.

Niat. Pasrah. Gak cukup, kan?

Gak lama kemudian adek saya yang bongsor menikah. Dengan seseorang yang memang sudah lama dekat dengannya. Tinggal bersama-sama saya. Dan saya punya ponakan dari dia. Saya banyak belajar dari adek saya itu, bagaimana adek saya yang masih muda itu membina pernikahannya, berjuang menjadi ibu, istri, dan mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Ya, walaupun masih muda kalo memang sudah waktunya menikah dan punya anak ya dikasih.

Niat. Pasrah. Waktu.

Niatkan menikah bukan karena-karena dan sebab-sebab tertentu. Cocok dan cinta itu bukan alasan “niat” buat menikah. Niat menikah karena ingin beribadah, menyempurnakan iman. Haus tadi, ya niatin minum. Gak peduli jatuh cinta apa enggak sama soda. 

Pasrahkan apapun minumannya, kalo haus biasanya juga diminum. Pasrah. Ini sulit. Kebanyakan maunya. Harus manis. Yang dingin. Gak suka yg durian, yg kopi, dll. Yang manis bisa bikin diabete juga lohh.. Allah yang taulah yang terbaik mana buat kita. Tenang aja. Coba minum dikit-dikit. Siapa tau nagih.. *eaaak*

Waktu. Semua pada tau. Semua pada punya kalendar dan jam.. *gak meaning kalo ini* -_-’ Semua sudah ada waktunya. Waktunya makan kapan, tidur kapan. Waktunya belum mikir tentang nikah, sampe waktunya besok nikah. Mana jalan yang arahnya dipermudah, gak usah dipersulit. Nanti kalo dipersulit beneran, jadinya galau lagi. Tambah panjang ceritanya. #rawiswis. Bisa the long wedding road session 3 nanti.

……….

My Wedd Vidd

More Information